**Ududtoto – Sebuah argumen diungkapkan bahwa individu rasional, baik manusia maupun kecerdasan buatan (AI), seharusnya tidak memiliki tujuan tetap. Penulis menekankan bahwa tindakan manusia bersifat rasional bukan karena diarahkan oleh tujuan akhir, melainkan oleh praktik yang membentuk dan mendukung tindakan tersebut. Struktur ini meliputi jaringan tindakan, kriteria evaluasi, dan sumber daya yang saling terkait, yang pada akhirnya mendukung kolaborasi yang efektif antara manusia dan AI.
Konsep eudaimonia atau kebahagiaan yang rasional menjadi pusat pembahasan, di mana eudaimonia tidak sekadar sebagai titik tujuan, tetapi sebagai struktur deliberasi yang berbeda dari rasionalitas hasil. Penulis berargumentasi bahwa aktivitas rasional eudaimonis diperlukan untuk menciptakan AI yang dapat sejalan dengan nilai-nilai manusia, termasuk transparansi dan kebaikan, yang biasanya tidak terpikirkan dalam konteks tujuan atau aturan ketat.
Melalui beberapa studi kasus seperti matematika dan seni, penulis menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut tidak bisa dipisahkan dari praktik yang melingkupinya. Pendekatan ini menjelaskan bagaimana aktivitas yang baik dalam bidang-bidang tersebut berpotensi mendorong keunggulan di masa depan. Selain itu, penulis membahas perlunya AI memiliki pemahaman tentang praktik-praktik eudaimonis untuk dapat beroperasi dengan aman tanpa mengabaikan nilai-nilai manusia.
Secara keseluruhan, artikel ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali pandangan tentang tujuan dan praktik dalam konteks interaksi manusia dan AI, serta pentingnya mendefinisikan kembali bagaimana kita menilai kebaikan dan ekselensi dalam tindakan sehari-hari. Dengan demikian, pendekatan berbasis praktik diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kita dalam menciptakan AI yang lebih baik dan lebih aman.**




