Ududtoto – Penegakan diagnosis menjadi langkah pertama yang krusial dalam proses pengobatan pasien. Setelah diagnosis ditetapkan, tantangan selanjutnya adalah pengelolaan kondisi kesehatan yang berkelanjutan, meliputi pemantauan gejala melalui berbagai janji temu dan penyesuaian obat sesuai dengan pedoman yang terus diperbarui.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “Nature” menunjukkan kemampuan sistem kecerdasan buatan bernama Articulate Medical Intelligence Explorer (AMIE). Sistem ini dirancang untuk mendukung reasoning medis dan mampu beradaptasi dalam pengelolaan penyakit jangka panjang dengan menggunakan formula obat dan pedoman klinis. AMIE memanfaatkan kemampuan konteks panjang dari model Gemini, yang menghadirkan agen dialog empatik untuk percakapan real-time dengan pasien serta agen reasoning manajemen yang mendalam, yang dapat merujuk ratusan halaman pengetahuan klinis yang terotorisasi.
Dalam studi terblind yang melibatkan aktor pasien, para dokter spesialis membandingkan AMIE dengan 21 dokter perawatan primer. Hasilnya menunjukkan bahwa AMIE mampu menyamai reasoning manajemen para klinisi serta memperoleh skor tinggi dalam ketepatan rencana dan keselarasan dengan pedoman. Temuan ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan seperti AMIE berpotensi mendukung perawatan medis dan memberikan lebih banyak waktu kepada dokter untuk berinteraksi dengan pasien.
Ke depan, penelitian akan dilanjutkan untuk mengeksplorasi penerapan AMIE dalam pengaturan klinis. Sebuah studi nasional juga telah diluncurkan untuk menilai penggunaan AI dalam perawatan virtual yang nyata.