Ududtoto – Dalam era adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), peran dan tanggung jawab karyawan di perusahaan akan mengalami perubahan signifikan. Menurut Jayaswal, penggunaan AI memungkinkan karyawan untuk lebih fokus pada pekerjaan yang memerlukan kreativitas dan kolaborasi lintas fungsi, sementara tugas-tugas administratif yang berulang, seperti pengelolaan jam kerja, akan ditangani oleh agen AI.
Namun, pengalihan tanggung jawab ini harus dilakukan dengan tetap melibatkan manusia. Jayaswal menekankan pentingnya keamanan data ketika menerapkan teknologi AI di lingkungan perusahaan yang berkaitan dengan informasi sensitif. Ia mengungkapkan bahwa penerapan AI dalam sistem perusahaan perlu dilengkapi dengan peraturan ketat dan lembaga tata kelola, seperti dewan AI, untuk melindungi privasi data.
Adopsi agen AI akan mendorong perusahaan untuk mengevaluasi kembali peran karyawan. Sebagian besar waktu karyawan akan beralih dari menangani tugas repetitif menjadi mendesain dan mengoptimalkan kerja agen AI. Jayaswal menyatakan, perubahan ini mengubah karyawan dari “pahlawan” penyelesai masalah menjadi perancang solusi.
Dalam konteks perubahan ini, keterampilan inti karyawan juga akan diperbarui. Survei menunjukkan bahwa lebih dari 80% pemimpin HR berniat untuk melatih kembali pekerja agar lebih kompetitif di pasar yang dipengaruhi oleh AI. Keterampilan teknis akan semakin penting, dengan perusahaan seperti Salesforce dan Walmart sudah meluncurkan program untuk meningkatkan literasi AI di kalangan karyawan.
Selain keterampilan teknis, keterampilan lunak juga akan mengalami evolusi. Karyawan perlu jelas dalam mengkomunikasikan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan parameter yang diperlukan untuk menjaga data yang bersifat rahasia. Tiga keterampilan utama yang muncul sebagai prioritas dalam perekrutan adalah membangun hubungan, kolaborasi, dan adaptabilitas.